Early Utami: Jadikan Guru BK sebagai Poros Komunikasi Siswa-Orang Tua

Chalkboard - Love

Guru Bimbingan dan Konseling (BK) kerap menjadi momok bagi pelajar (siswa) di sekolah. Hadirnya guru BK biasanya membuat para siswa yang berniat melanggar ketar-ketir. Pada intinya, kepatuhan hanya didasarkan rasa takut, bukan atas sebuah kesadaran.

Menyadari hal tersebut guru BK SMPIT Ar Raihan, Early Utami, S.Psi., Psi., M.A., berusaha mengubah peran guru BK di lingkungan SMPIT Ar Raihan. Early Utami menginginkan guru BK dapat menjadi tempat konsulitasi, tempat “curhat” atau mengadu, dan menjadi poros komunikasi antara siswa dengan orang tua.

Untuk menjadi guru BK demikian itu, menurut Early Utami, guru BK harus pintar memainkan peran. Sebagai konsultan, guru BK harus mempersepsikan diri sebagai sosok yang mudah didekati, dapat diajak berteman, membuat nyaman, dan meyakinkan. Sebagai tempat curhat, seorang guru BK haruslah mampu menjadi teman. Seorang teman sejatinya mau mendengarkan, mampu menyimpan rahasia, dan siap memberi masukan. Sementara itu, sebagai poros komunikasi antara siswa dengan orang tua, guru BK haruslah mampu memainkan peran. Selama ini, menurut guru BK yang sekaligus Kepala SMPIT Ar Raihan itu, guru BK sering dipersepsikan sebagai “pengadu”, “tukang lapor” sehingga anak enggan mengomunikasikan berbagai persoalannya kepada guru BK.

Tentang komunikasi ini, Early Utami menjelaskan lebih lanjut, permasalahan mungkin saja terjadi di sekolah. Atas hal tersebut, seorang guru BK harus pintar memilah dan memilih mana persoalan yang harus dibicarakan dengan orang tua, mana yang cukup dilaporkan saja, dan persoalan mana pula yang tidak perlu disampaikan kepada orang tua alias cukup diselesaikan di sekolah.

Dalam menyampaikan persoalan pun, teknik yang digunakan harus tepat. Early Utami tidak ingin gara-gara komunikasi yang buruk, sebuah persoalan menjadi lebih buruk ataupun seolah tidak bermasalah. Untuk itu, informasi yang disampaikan hendaknya akurat dan dibicarakan dengan tujuan yang konstuktif, menjadikan anak lebih baik dalam kegiatan belajar-mengajar.

“Kendati siap menjadi teman curhat, seorang guru BK tetaplah harus sadar posisi. Dia harus tahu bahwa peran sesungguhnya adalah sebagai guru, jalinan pertemanan merupakan metode yang digunakan dalam berkomunikasi dengan siswa. Oleh karena itu, seorang guru harus tahu betul sampai sejauh mana kedekatan yang dapat dibangun agar status keguruan seorang guru BK tetap didasari oleh para siswa,” ungkap Early Utami ketika ditemui di kantornya beberapa saat silam. [SB]

Related posts

One thought on “Early Utami: Jadikan Guru BK sebagai Poros Komunikasi Siswa-Orang Tua

  1. Guru BK kini dituntut untuk memiliki peran yang cukup penting karena sebagai jembatan lain antara orang tua dengan anak. Tidak hanya itu, guru BK juga dituntut agar dapat mengenali masing-masing siswa secara personal agar dapat mengerti perkembangan mereka.

Leave a Comment